APEL PAGI SMKN22 MEMBUDAYAKAN 5 S

Setiap hari Senin, lembaga pendidikan khususnya di lembaga sekolah, upacara bendera atau apel  merupakan kegiatan rutinitas disetiap pekannya harus dilakukan, sebagai latihan pembentukan karakter dan jiwa Nasionalisme bagi siswa/i, apel pagi ini telah dilaksanakan dengan durasi waktu hanya  30 menit sebelum di mulainya proses kegiatan mengajar (PBM) di mulai.

Untuk hari ini, Senin (7/11/2022) SMKN 22 Jakarta,  suasana sangat  terasa adem, dan terlihat bekas genangan air di lapangan upacara, karena baru saja selesai diguyur hujan, tapi alhamdulilah, hujanpun berhenti, dan SMKN 22 Jakarta bisa melaksanakan Apel pada pukul: 06.30 s.d 07.00 Wib, dan yang  menjadi petugas apel pagi ini adalah kelas XI TKJ 1.

Sebagai petuga apel pagi ini, adalah seorang guru muda, yang memiliki semangat yang baik dan enegik beliau adalah bapak Vico Devinto, S.Kom,  dalam  isi apelnya beliau telah menyampaikan point singkat  dan penuh makna, dalam sambutannya beliau mengatakan:

Jika kalian ingin sukses menjadi siswa/I di SMKN 22 Jakarta ini, dan sukses menata hidup kedepan, maka jangan lupa melaksanakan dengan penuh keikhlasan dan pemahanan, yaitu budayakan 5 S,  apa itu 5 S? tentu kalian sering mendengar istilah tersebut. Yaitu: “SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN, SANTUN”,’kata pak Vico dengan penuh semangat dalam menyampaikan materinya.

Beliupun melanjutkan apelnya,  “jadi jika kalian bertemu dengan bapak/ ibu guru baik yang mengajar kalian maupun yang tidak mengajar, tetap melaksanakan budaya 5 S tersebut, senyum jika bertemu, upacakan salam jika berjumpa, di sapa jangan menghindar, sopan dan santun dalam berbicara dan berakhlak. Karena bagaimanapun bapak/ ibu guru kalian adalah sebagai orang tua kalian,  karena secara fakta yang terjadi, masih ada siswa/i yang cuek, acuh tak acuh, kurang beradab, Ketika berjumpa dengan gurunya, sehinga inilah yang menyebabkan hilangnya “KEBERKAHAN”.”ujar beliau.

Jadi menanggapai materi Pembina apel menurut penulis, ini adalah menjadi sebagai catatan untuk siswa/i  yang membaca tulisan ini, jangan asik main Hpnya tapi tidak menyapanya,  jadi dimanapun kalian berjumpa dengan guru maka budayakan 5S, tentu dilaksanakan bukan karena paksaan tapi karena “KESADARAN”.

Gambar: terlihat Kepsek SMKN 22 Jakarta dengan ibu Guru
Gambar: Bapak guru serta para Mahasiswa dari UNJ dan UHAMKA.
Gambat: Paduan Suara SMKN 22 Jakarta

Terlihat juga dalam pelaksanaan apel ibu Dra. Odah Saodah, M.Pd. selaku kepala SMKN 22 Jakarta, begitu pula para jajaran wakil, bapak ibu guru, dan staf tata usaha.

Aplikasi budaya 5 S dalam membentuk karakter siswa di SMKN 22 Jakarta

Banyak sekali program yang ditemukan untuk meningkatkan nilai karakter diri para peserta didik, salah satu program yang bisa diterapkan untuk menanamkan pendidikan karakter para peserta didik adalah membiasakan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Program ini merupakan kegiatan yang sederhana, namun memiliki peranan dalam pembentukan karakter peserta didik.

Untuk lebih jelasnya dapat kita uraikan tentang budaya 5S ini terdiri dari:

  1. Senyum

Senyum adalah gerak tawa tanpa suara yang tercermin pada bibir yang mengembang sedikit. Sering kita dengar bahwa senyum merupakan ibadah. Hal itu mungkin benar, karena saat kita tersenyum berarti kita dalam keadaan bahagia, maka secara tidak langsung kita sudah menyebarkan kebahagian dan aura positif kepada orang lain. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya sebelum melakukan kegiatan apapun kita awali dengan senyuman. Senyuman yang tulus menjadikan hubungan masing-masing individu menjadi lebih menyenangkan.

  1. Salam

Salam, adalah pernyataan hormat, selamat, sejahtera, damai, tentram. Yang digunakan untuk mengkomunikasikan rasa hormat kita atas kehadiran orang lain, sebagai bentuk rasa perhatian kita kepada orang tersebut.  Salam yang kita lakukan dengan penuh ketulusan, maka akan mampu mencairkan suasana kaku yang ada di sekitar kita. Salam dalam hal ini bukan hanya berarti berjabat tangan saja, namun seperti mengucapkan salam menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Mengucapkan salam hukumnya sunnah dan menjawab salam hukumnya Wajib, budaya salam  adalah salah satu amalan sholeh yang telah diajarkan. Hal itu memberi gambaran, bahwa kita telah menyapa dan mengajak orang lain bercakap-cakap dan budaya Saling mendoakan. Dan tanpa kita sadari sebenarnya kita telah menunjukkan perhatian kita terhadap orang yang kita tegur dengan salam. Hal itu akan mempererat persaudaraan.

  1. Sapa

Sapa secara sederhana memiliki makna kata-kata untuk menegur. Maka, tegur sapa yang dilakukan dengan ramah yang kita ucapkan, membuat suasana menjadi akrab dan hangat. Saat kita menayapa seseorang, maka berarti kita menunjukkan perhatian, respon, dan simpati kita terhadap orang itu. Sehingga akan muncul rasa dihargai bagi orang yang sedang kita sapa. Hal itu, akan menjadikan kepercayaan diri orang yang kita sapa tadi semakin meningkat.

  1. Sopan

Sopan adalah rasa hormat, takzim, dan tertib menurut adab yang kita lakukan kepada orag lain. Sopan yang bisa kita lakukan adalah rasa hormat kita baik saat bicara, berjalan di depan orang yang lebih tua, atau bahkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Bukan hanya itu saja, sopan dalam berpakaian juga merupakan hal yang penting.

Hal itu akan menumbuhkan rasa saling menghormati satu sama lain. Seseorang yang berkarakter dan memiliki etika adalah seseorang yang mampu berlaku sopan baik ucapan maupun perbuatan dimanapun dan kapanpun.

  1. Santun

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, santun memiliki pengertian sangat sopan, lemah lembut berbudi bahasa, penuh rasa belas kasihan, suka menolong, berakhlak mulia. Selain itu, santun juga memiliki makna tentang bagaimana kita mampu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Dengan cara gerak tindakan dan ucapan yang santun kita akan membuat orang lain merasa dihargai. Tingkah laku yang halus, rasa belas kasih, dan suka menolong merupakan hal yang timbul karena terbiasa bertingkah santun kepada orang lain.

Lima “S” yag diharapkan menjadi budaya karakter, mampu menumbuhkan nilai karakter yang memang diharapkan ada dalam setiap proses pembelajaran di sekolah. Adapun karakter-karakter itu adalah toleransi, komunikatif, cinta damai, dan peduli sosial.

Budaya lima “S” mampu membuat peserta didik menghargai orang lain tanpa memperdulikan perbedaan agama, suku, dan etnis yang berbeda dari dirinya. Hal ini menunjukkan adanya karakter toleransi dalam program ini.

Bukan hanya itu saja, melalui salam, sapa, sopan, dan santun peserta didik mampu menumbuhkan rasa senang bergaul, berbicara, dan bekerja sama dengan orang lain yang merupakan bentuk karakter bersahabat dan berkomunikasi.

Selain toleransi dan bersahabat, lima “S” juga mampu menumbuhkan rasa senang dan rasa aman atas kehadiran satu sama lain, yang merupakan perwujudan sikap cinta damai.

Melalui lima “S”, akan tumbuh kepedulian sosial, yaitu rasa ingin selalu membantu orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Hal itu merupakan hasil yang terbentuk dari sikap sopan santun yang tertanam dalam program ini.

Suatu program yang ditujukan untuk menanamkan karakter baik kepada peserta didik, tidak akan berjalan dengan sempurna jika tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah tersebut tidak ikut serta dalam program tersebut.

Oleh karena itu, sebelum menerapkan program Lima “S” tersebut kepada peserta didik. Maka para pendidik dan tenaga kependidikan harus memberikan contoh dan mempraktekan terlebih dulu. Dengan cara ini diharapkan mampu memotivasi peserta didik untuk mencontohnya. Selain itu, program ini juga membutuhkan sosialisasi agar semua warga sekolah mampu memahami program ini. Hal ini dilakukan agar cita-cita sekolah membentuk peserta didik dengan  berkarakter bisa terwujud,

Akhirnya marilah kita wujudkan “5 S” dengan “3M” yaitu:

  1. Mulai dari diri sendiri,
  2. Mulai yang terkencil dan
  3. Mulai saat ini.

Semoga SMKN 22 Jakarta  bisa saling bersinergi dan saling berkolaborasi, untuk mewujudkan 5 S tersebut, “SMKN 22 Jaya, kepala sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan akan “BAHAGIA”, program kerja akan sekolah akan  “TERLAKSANA”,

Marilah penulis mengajak untuk mewujudkan “SATU VISI, SATU HATI  Bersama MERAIH PERESTASI”

About Miswan M.Ag, M.Kom

One comment

  1. LELY SURYANI, S.Pd.SD

    .antap….
    Peu dicontoh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SMK Negeri 22 Jakarta