MAU MENJADI PEMBELAJAR ATAU BERHENTI SAJA MENGAJAR

Penulis,  Miswan, M.Kom.,M.Pd (Guru SMKN 22 Jakarta)

Kalimat diatas adalah memberikan arti yang sangat luas, karena tidak mungkin kita akan menjadi guru yang terbaik kalau kita tidak mau belajar dan terus mengupgrade kemampuan diri tentu berdasarkan kompetensi yang dimilikinya.  Karena sebuah produk akan berhasil daya guna bisa dilihat dari input dan prosesnya. Apalagi sebelumnya seluruh bangsa telah di uji dengan makhluk Allah yang Bernama Corona.

Coba kita pikirkan sejenak, sejak pandemi Covid-19 hadir di bumi yang kita cintai ini, maka covid 19 secara otomatis akan mengubah dunia dengan segala permasalahannya, termasuk di dalamnya dunia pendidikan. Salah satu bentuknya adalah pola pembelajaran yang kita gunakan harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang ketat agar penularan virus ini bisa dikendalikan. Mau tidak mau atau suka tidak suka, guru harus menjadi pembelajar, yang awalnya kita luring menjadi daring. Kurang lebih  selama hampir 2 tahun terakhir, dimulai dari Maret 2020, pembelajaran dilakukan dengan daring, yang biasa disebut sebagai pembelajaran jarak jauh (PJJ), yang dikenal luas dalam dunia internasional sebagai distance learning. Tapi Alhamdulillah saat ini hampir diseluruh pelosok negeri kita pembelajaran sudah mulai berangsur step by step dengan tatap muka. Artinya sudah 100 % kita langsung bertemu dengan siswa/I kita, walaupun durasi pembelajaran dikelas sampai menjelang sholat Dzhuhur.

Dari rangkaian Ujian tersebut maka Tuhan telah menguji kepada kita semua, ya, sudah pasti dibalik ujian/musibah berupa Covid 19 ini yang Allah turunkan, maka Allah sudah pasti  secara faktanya banyak Mutiara hikmah  yang bisa kita ambil, yang pada awal sebelum pendemi tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa guru saat ini harus melek dengan teknologi, jangan sampai termasuk gagap teknologi (GT), sebagai bukti diantarnya para guru sudah belajar software atau aplikasi seperti Zoom dengan berbagai fiturnya, Webex, Google Classroom, GMeet, Team, GoogleForm, Quizziz, Edmodo dan sebagainya. Para guru juga mulai kembali belajar Ms. Powerpoint, PowerDirector, dan berbagai aplikasi untuk mengedit video (Kinemaster, filmora go, filmora, Camtasi dll). Sampai  mereka saat ini para guru sudah banyak yang telah membuat kanal YouTube (youtuber) hasil karya sendiri, dengan tujuan agar siswa/I lebih mudah mengerti terhadap materi pelajaran yang diberikan, inilah nilai positif yang bisa kita ambil dari adanya pandemic Covid 19  ini.

Penulis pikir salah satu hikmah adanya pandemi ini, para guru dipaksa untuk belajar, Walaupun ada beberapa golongan yang masih saja enggan belajar, tetapi sebagian besar guru memaksa diri untuk belajar hal-hal baru, yang mungkin bisa jadi belum pernah dilakukan sebelumnya.

Mau tidak mau, suka tidak suka, Guru harus selalu  belajar yang akan membuat kita para guru terus berkembang. Bagaimana mungkin kita akan memberikan ilmu pengetahuan kepada para siswa jika kita tidak terus mengasah diri dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang terus berkembang sangat pesat? Misalkan kita aktif mengikuti kegiatan seperti KKG , MGMP, baik dari sekala wilayah, kota maupun Nasioanl.

Ditambah lagi para siswa sekarang ini juga bisa mengakses pengetahuan hampir tanpa batas. Pengetahuan mereka bisa begitu banyak karena akses yang sangat luas sekarang ini dari internet. Karena itulah, guru juga harus selalu mengupdate pengetahuan yang mereka miliki. seor

Kalau tidak mengudpate, para guru akan jauh tertinggal dari para siswanya. Karena itulah, selalu penulis mengingatkan bahwa guru harus selalu belajar, setiap hari, setiap saat. Bagi penulis, kalau seorang guru berhenti belajar, itulah saat di mana seorang guru tidak lagi pantas untuk mengajar.

Mengapa guru harus terus belajar? Karena semakin banyak ilmu yang kita pelajari, semakin besar peluang untuk menerima hasil yang lebih besar dan lebih baik, waktu dan tenaga yang kita habiskan untuk belajar, akan selalu melahirkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan selanjutnya.

Proses belajar yang senantiasa harus dilakukan oleh guru adalah banyak membaca berbagai macam literatur, jangan sampai terkena penyakit yang disebut dengan penyakit “SEMBELIT “, singkatannya adalah Sedikit Membaca Literatur, ada juga dengan cara, berdiskusi dengan teman sejawat dan belajar menulis, jadi inget pepatah: “Omjay” yang artinya: “Menulislah setiap hari perhatikan akan yang akan terjadi”. Termasuk berdiskusi dan berkumpul di komuniti guru per mata pelajaran seperti KKG dan MGMP, Dengan ketiga proses ini, guru akan lebih maksimal dalam mengasah kualitas, mempertajam ilmu dan kompetensinya.

Guru, tak boleh berhenti belajar sebagai upaya mengembangkan kompetensi dirinya. Kompetensi paedagogik dan profesional harus terus dikembangkan. Bahkan dengan kompetensi sosial dan kepribadian yang selalu diasah. Bahkan sebagai guru harus mengembangkan kompetensi leadership dan spiritual. Guru memiliki tugas yang berat, karena mendidik anak bangsa yang cerdas, berakhlak mulia dan berilmu agar meraih masa depan yang penuh tantangan.

Bukankah dengan tugas itu, guru  senantiasa mengupgrade ilmu yang dimilikinya, agar apa yang dia didik dan ajarkan kepada peserta didik sesuai dengan zamannya.

Pesan yang disampaikan Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A:

Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan di masa mendatang.

Guru seharusnya open minded, siap menerima masukan dan kritikan, tidak hanya menyalahkan dan merasa yang paling benar. Waktu terus maju dan ilmu semakin berkembang, demikian pula pemikiran manusia terus berkembang sesuai dengan zamannya.

Jadi seorang guru harus senantiasa belajar, semangat membaca, sering berdiskusi dengan teman sejawat, dan belajar menulis. Tanpa itu, sebaiknya guru berhenti saja mengajar. Jika ingin peserta didiknya rajin membaca, dia sendiri jarang dan tidak pernah membaca. Jika Ingin peserta didiknya memiliki ketajaman analisa, dia sendiri tidak pernah mengasah analisanya dengan sering berdiskusi dengan teman sejawat.  Jika ingin peserta didiknya rajin menulis dan berharap ada yang jadi penulis hebat sekelas penulis Ayat-Ayat Cinta, tapi dia sendiri tidak pernah belajar menulis. Lalu untuk apa menjadi guru? Berhenti sajalah menjadi guru, cari pekerjaan lain!

Perlu diingat bahwa guru itu memiliki tugas membimbing dan memberikan teladan terbaik bagi peserta didiknya.

Jadilah guru pembelajar, jadilah guru hebat dengan selalu berproses, selalu belajar, menghebatkan peserta didiknya serta memberikan teladan kepada mereka. Dan pada satu titik kita layak berharap, kelak mereka menjadi generasi masa depan yang akan mencerahkan dan memajukan kehidupan bangsa Indonesia, serta menginspirasi dunia bahkan dapat mengubah dunia dengan prestasinya.

Bagaimana sih Agar Kita Bisa Selalu Belajar ?

Pertama, kuliah lagi secara formal. Kuliah secara formal bagi penulis adalah cara paling baik untuk kita terus belajar. Perkuliahan secara formal sudah didesain sedemikian rupa agar mampu mengembangkan keilmuan mahasiswa secara terstruktur. Yang penting kita mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, aktif pada berbagai kegiatan, maka dengan sendiriinya keilmuan kita akan meningkat.

Selagi ada kesempatan dan biaya, selalu rencanakan kapan untuk bisa berkuliah formal. Kalau belum ada biaya, mulai menabung agar suatu saat nanti bisa berkuliah lagi.

Kedua, ikut seminar dan pelatihan. Jika perkuliahan dirasa membutuhkan waktu yang panjang, maka pilihan lain yang bisa kita ikuti untuk belajar adalah seminar dan pelatihan tentang tema-tema tertentu. Seminar dan pelatihan tentang mengajar dan berbagai keterampilan yang menyertainya, menulis, public speaking, manajemen sekolah, manajemen SDM sekolah, dan sebagainya.

Pilihlah keterampilan dan pengetahuan yang kita butuhkan sekarang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Dan faktor-faktor pengembangan diri sekarang ini diperlukan bukan hanya untuk meningkatkan kualitas diri, tetapi juga, bagi guru yang termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN), pengembangan diri ini diperlukan untuk kenaikan pangkat.

Ketiga, banyak-banyak membaca. Salah satu cara paling efektif untuk memperluas wawasan adalah membaca. Membaca apa saja; koran, majalah, buku, komik, buku pelajaran, buku non pelajaran, pokoknya membaca.

Salah satu tips agar membaca kita menjadi efektif adalah dengan membaca secara tematik. Misalnya dalam dua bulan ke depan kita akan membaca buku-buku, artikel, makalah, kolom, tentang belajar pada masa pandemi. Kita konsentrasi, fokus pada tema tersebut. Setelah kita baca, jangan lupa untuk meresume ataupun membuat tulisan baru dari hasil bacaan kita.

Nah, Sekarang  Bagaimana cara menjadi guru yang baik dan profesional?

Marilah kita simak 5 Tips jurus jitu menjadi guru yang baik.

  1. Dapat Menyusun Program Kegiatan Belajar Mengajar dengan Cara Unik
  2. Menguasai Aneka Media Pembelajaran
  3. Jadi Guru Berkualitas dan Mampu Menyesuaikan Tantangan Zaman
  4. Bisa menjadi role model (uswah) bagi para siswa/inya.
  5. Selalu bertawal kepada Allah SWT.

Dengan demikian, ketika kita rajin  membaca, memahami, lalu menuliskan kembali dalam bentuk tulisan. Maka pemahaman tersebut akan menginternal dan bisa kita keluarkan pada saat dibutuhkan. Semoga Tulisan yang sederhana ini bisa menjadi motivasi agar kita tetap selalu menjad Guru terbaik, menjadi media inspirasi bagi kita agar seorang guru harus melakukan inovasi, kreativitas, tidak gampang menyerah dan memiliki komitmen dan komunitas dalam pembejaran berdasarkan mapel yang diampuh.

Sumber:

  1. esqtaning.com

 

About Miswan M.Ag, M.Kom

One comment

  1. Assalamu a’laikum

Leave a Reply

Your email address will not be published.

SMK Negeri 22 Jakarta